Senin, 01 April 2013

SISTEM EKSKRESI


1.        Judul : Prosedur eksperimen uji urine
Tujuan : Tujuan umum dari laporan praktikum ini adalah mengamati sifat-sifat fiisk  dari urin.
Tujuan khusus dari laporan praktikum adalah untuk:
a.   Mengamati sifat-sifat urin
b.   Mengetahui garam-garam amonia yang terkandung dalam urin
c.   Menguji kandungan belerang dalam urin
d.   Menguji kreatinin dalam urin
e.   Menguji kandung protein dalam urin
f.    Menguji klorida dalam urin
Alat : Urinometer
Bahan :
Variasi klorida menentukan bagian dari bahan padat dalam urine. Ekskresi Cl tergantung pada partikel, diet alami, tetapi rata-ratanya sekitar 10-15 gram sehari. Klorida diekskresikan sebagai natrium klorida adalah yang utama karena sebagian klorida adalah yang utama.
Prosedur Kerja :

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjagahomeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril. Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat
Jumlah dan komposisi urin mencerminkan berbagai proses biokimia yang terjadi dalam tubuh. Dengan demikian komposisi urin individu bisa berubah ketika seseorang memiliki penyakit. Dalam kondisi sakit, sangat umum untuk melihat adanya komponen abnormal (Senyawa yang tidak hadir dalam urin yang sehat, individu normal) atau komponen normal dalam jumlah abnormal dalam urin. Berikut adalah komposisi normal urin.
 Hasil Pengamatan :  Tabel 1 Komposisi normal urin
Jenis
Indikator
Volume
600-200 ml / 24 jam
Khusus Gravitasi
1,003-1,030
pH
4,6-8,0
Urea
15-35 g (250-580 mmol) / 24 Jam
Ammonia
0,5-1,0 g (29-58 mmol) / 24 Jam
Urat
0,5-2,0 g (3 - 12 mmol) / 24 Jam
Kreatinin
1,0-2,0 g (9-17 mmol) / 24 Jam
Creatine
0.1g / 24 Jam

Kesimpulan : Pengujian terhadap garam amonium dilakukan untuk mengetahui adanya garam amonium dalam urin. Pada urin yang dipanaskan kemudian uapnya akan menimbulkan warna merah yang menunjukkan adanya garam amonium atau gas NH3 yang mudah menguap pada kertas uji yang diberikan pereaksi nessler ataupun pada kaca (Ganong 2003).
Uji Klorida pada urin dilakukan dengan mencampur HNO3 dan AgNO3, pada urin dan akan terbentuk endapan berwarna putih (AgCl). Apabila larutan tersebut ditambah dengan amoniak berlebihan, endapan tersebut akan larut kembali. HNO3 berfungsi untuk mencegah terjadinya perak fofat Terbentuknya endapan AgCl (endapan putih) menunjukkan adanya ion Cl- yang berasal dari urine diikat oleh Ag+ dari AgNO3. Penambahan amoniak akan mengurangi endapan AgCl  (Ganong, 2003).
AgCl + NH3­OH           AgOH + NH4Cl
            Uji klorida dilakukan untuk mengetahui zat-zat abnormal yang terkandung dalam urin. Indikatornya terdapat endapan putih, menunjukkan urin tersebut mengandung klorida. Adanya endapan menunjukkan bahwa kinerja hati terganggu.
            Menurut Filzahazny (2009), Belerang pada percobaan urin dapat dibedakan menjadi :
a. Belerang Anorganik
Belerang anorganik merupakan bagian terbesar dari belerang teroksidasi (85-90 %) dan berasal terutama dari metabolisme protein. Pada percobaan ini, urin 24 jam direaksikan dengan HCl encer dan BaCl­2. Maka akan terbentuk endapan putih yang menunjukkan adanya belerang anorganik, reaksi yang terjadi
b. Belerang Eteral
Belerang etereal merupakan senyawaan asam sulfat dengan zat-zat organik. Sulfat etereal di dalam urin merupakan ester sulfat organik (R-O-SO3H) yang dibentuk di dalam hati dari fenol endogen dan eksogen, yang mencakup indol, kresol, esterogen, steroid lain, dan obat-obatan. Zat-zat organik tersebut berasal dari metabolisme protein atau pembusukan protein dalam lumen usus. Semuanya terurai pada pemanasan dengan asam. Jumlahnya 5-15 % dari belerang total urin.
c. Belerang Yang Tak Teroksidasi
Belerang tak teroksidasi merupakan senyawa yeng mempunyai gugus –SH, -S, -SCN, misalnya asam amino yang mengandung S (sistin), tiosulfat, tiosianat, sulfida, dsb. Jumlahnya adalah 5-25 % dari belerang total urin. Pada percobaan ini, kertas saring yang dibasahi dengan Pb-asetat menjadi berwarna hitam (hasil reaksi positif).
Protein plasma sebagian kecil disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urin biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Bila lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria. Ada bebrapa test urin untuk mengetahui ada protein, antara lain test heller, test koagulasi, test asam sulfosalisilat dan test Osgood-haskins (Basoeki  2000).

2.       Teknologi terkini dalam membantu pasien kelainan & gangguan pada system ekskresi.


1.       Hemodialisis - Teknologi untuk Gagal Ginjal


PENJELASAN:

Hemodialisis adalah salah satu pengobatan gagal ginjal, bila jiwa telah terancam oleh gagal ginjal.


Tujuan : mengambil/mengeluarkan cairan yg. Berlebihan dan sisa metabolisme yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal.

Prinsip : darah pasien dialirkan melalui pipa dengan dinding membran semi permeabel → ginjal artifisial → transfer toksin dan cairan : air, molekul kecil menembus dinding, molekul besar (protein) tidak.

Mekanisme transport solute :

a. Difusi : – kecepatan difusi tergantung pada : besar pori, luas dan tebal membran: temperatur larutan, beda konsentrasi solut, dan berat molekul.

b. Ultrafiltrasi : air dengan tekanan hidrostatik/osmotik didorong menembus membran kesatu arah, membawa bahan terlarut



2. Radioterapi - Teknologi untuk Kanker Paru Paru

PENJELASAN:

Radioterapi adalah sebuah teknik terapi bagi para penderita kanker yang cukup populer. Radioterapi telah mengalami teknik radiasi yang berkembang dari sejak pertama kali diperkenalkan sampai saat ini.

Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:
• Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi, baik dengan atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti pembedahan dan kemoterapi.
• Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan, radioterapi berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar
• Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.


3. Scanning Laser Hair Removal System - Teknologi untuk Kulit Kepala Bermasalah


PENJELASAN:
Laser hair removal bekerja dengan mengirimkan sinar laser ke folikel rambut dengan energi yang cukup untuk menghancurkan akar, tanpa mempengaruhi daerah sekitarnya. Bekerja pada kulit kepala yang bermasalah. Dapat digunakan dengan mudah, nyaman dan tanpa rasa sakit. Alat ini memperlakukan rambut yang tidak diinginkan dalam privasi rumah Anda sendiri dan pada waktu yang sesuai dengan Anda.


0 komentar:

Posting Komentar